Ketika membaca artikel-artikel finansial, terutama artikel asing, sering saya jumpai istilah yang tidak sepenuhnya saya pahami. Misalnya buy side, sell side, market order, limit order, price discovery, dan sebagainya. Biasanya lalu saya cari dengan mesin pencari. Tapi karena hanya sambil lalu, maka pengertian penuhnya biasanya terlewatkan.

Kebetulan saya sedang tertarik dengan topik market microstructure, yaitu pasar dari sisi detil transaksi seperti analisa run trade, order, susunan bid-ask (dikenal dengan istilah order book), dan sebagainya. Oleh karena itu saya membeli buku Financial Markets and Trading: An Introduction to Market Microstructure and Trading Strategies (Wiley Finance) [Schmidt 2011] yang membahas topik ini.

Bab-bab awal buku ini berisi penjelasan istilah-istilah dasar di pasar finansial. Menariknya, disamping saya jadi mengerti gambaran global tentang pasar finansial, ada beberapa istilah yang pengertian saya (dan mungkin anda juga) salah kaprah. Misalnya:

Trader. Biasanya istilah ini kita artikan untuk orang yang membeli saham untuk disimpan dalam jangka waktu pendek (hitungan jam atau hari). Lawannya adalah investor, orang yang membeli saham untuk disimpan dalam jangka waktu panjang. Ternyata menurut arti bakunya, trader artinya semua pihak yang melakukan jual-beli di pasar saham.

Market maker. Biasanya kita artikan orang yang mengendalikan harga saham. Istilah keren dari “bandar”. Sedangkan menurut definisinya, market maker adalah pihak yang ditunjuk bursa sebagai penyedia likuiditas. Disebut juga dealer.

High frequency trading. Kita artikan trading gerak cepat, bisa berkali-kali tiap hari. Biasa juga diartikan trading secara otomatis dengan memakai algoritma komputer. Arti sebenarnya adalah pembelian dan penjualan yang dilakukan dalam tempo sangat cepat, kurang dari satu detik. Otomatis hanya bisa dilakukan oleh algoritma komputer.

Dan sebagainya.

Oleh karena itu saya ingin menuliskan tentang hal ini, agar pengertian kita baku dan tidak salah kaprah. Walaupun, referensi yang saya pakai adalah referensi dari buku asing sih, sehingga ada kemungkinan pengertiannya bisa berbeda dengan definisi baku di Indonesia. Saya masih mencari buku pasar modal Indonesia, mudah-mudahan nanti saya bisa perbarui seri ini dengan taksonomi yang sama dari pasar modal Indonesia.

Mari kita mulai dengan pengertian trader.

Taksonomi Trader

Taksonomi trader yang akan saya pakai adalah dari Schmidt (2011), yang lebih simpel dari taksonomi dari Harris (2003). Agar lebih jelas bahwa istilah-istilah di sini mengacu pada definisi internasional, maka istilah-istilah tersebut tidak akan saya terjemahkan ke bahasa Indonesia. Takutnya juga salah, karena saya belum belajar istilah baku pasar modal Indonesia.

Trader adalah pihak yang melakukan jual beli.

Proprietary trader adalah trader yang melakukan jual beli dengan modal sendiri (atau modal dari perusahaan tempat dia bekerja).

Broker adalah trader yang melakukan jual-beli atas perintah kliennya. Broker disebut juga agency trader. Untuk memperjelas aspek institusional dari broker, digunakan istilah brokerage firm, yang kalau di Indonesia mungkin disebut sekuritas.

Proses jual beli disebut juga transaksi. Tujuan proprietary trader adalah mendapatkan profit dari selisih harga penjualan dengan pembelian. Sedangkan broker biasanya mendapatkan keuntungan dari ongkos (fee) yang didapat dari setiap transaksi.

Buy-side adalah pihak yang melakukan jual-beli untuk kepentingan investasi dan/atau disimpan dalam suatu pengelolaan aset. Sedangkan sell-side adalah pihak-pihak yang memberikan layanan untuk buy-side, misalnya broker, dan juga dealer.

Dealer adalah pihak yang bertugas menyediakan saham untuk dibeli dan dijual di pasar. Pada saat yang sama, mereka menyediakan saham di bid dan saham di offer. Oleh karena itulah dealer disebut market maker, yang menyediakan likuiditas di pasar. Untuk pasar saham Indonesia mungkin tidak ada padanan untuk profesi ini. Walaupun di BEI sering ada pihak yang menaruh bid dan offer pada saat yang sama, tapi motifnya untuk mencari keuntungan, dan ini bukanlah suatu kewajiban bagi mereka. Sedangkan bagi dealer, adalah kewajiban untuk menyediakan bid dan offer untuk menciptakan likuiditas.

Menurut Schmidt (2011), trader dapat digolongkan dalam dua grup: (1) profit-motivated trader, dan (2) utilitarian trader.

Profit-motivated trader mengharapkan untung dari naik-turunnya harga, dan dapat dipilah menjadi informed traders, technical traders, dan dealers.

Informed traders bertransaksi berdasarkan pengetahuan akan fundamental suatu saham. Jika suatu saham dirasa underpriced (harga saham lebih murah dari nilai fundamental perusahaannya), mereka akan melakukan pembelian. Dan sebaliknya penjualan jika sahamnya overpriced. Karena tekanan beli/jual ini menyebabkan harga saham naik/turun, maka dikatakan informed traders menggerakkan saham ke arah nilai fundamentalnya.

Trader yang melakukan analisis fundamental juga disebut value investors.

Technical traders menggunakan berbagai pola dalam grafik pergerakan harga saham untuk memrediksi arah pergerakan selanjutnya. Mereka percaya bahwa semua informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan beli atau jual telah tercermin dalam pergerakan harga saham.

Utilitarian trader mengharapkan keuntungan lain dari jual beli selain (atau bahkan alih-alih) profit dari naik-turunnya harga. Contoh utilitarian trader adalah investor yang menjual saham untuk menjaga arus kas (cash flow). Misalnya investor membutuhkan dana untuk membeli rumah atau mobil, dan terpaksa menjual sahamnya walaupun profitnya tidak optimal. Contoh lain adalah hedger, yang melakukan hedging (lindung nilai) untuk mengurangi resiko memiliki aset beresiko seperti saham. Hedger misalnya membeli put option, yaitu kontrak untuk menjual saham pada harga tertentu di masa mendatang. Walaupun ada ongkos yang dikeluarkan untuk melakukan trading atas surat option ini, sehingga secara jangka pendek bisa dikatakan transaksinya rugi, namun pembelian ini bisa melindungi sang hedger atas kerugian yang lebih besar kalau harga sahamnya turun di masa mendatang. Dalam literatur ekonomi, utilitarian trader juga sering disebut liquidity trader, untuk menegaskan bahwa mereka “memakan” likuiditas yang disediakan market maker.

Demikian sedikit taksonomi tentang trader. Di artikel yang mendatang kita akan membahas tentang order.

Referensi

  • Harris, L. (2003). Trading and exchanges: Market microstructure for practitioners. Oxford University Press, USA. [Amazon]
  • Schmidt, A. B. (2011). Financial markets and trading: an introduction to market microstructure and trading strategies (Vol. 637). John Wiley & Sons. [Amazon]